Tulang Rusuk
My Christmas Eve,
Setelah bolos beberapa tahun untuk tidak Natalan di rumah Pa’de dan Bu’de Bambang, sejak Pa’de pensiun, lalu Putri kuliah, keluarga itu sering menghabiskan waktu Natal secara terpisah. Putri dengan kesibukkannya sebagai aktivis Gereja di Yogyakarta, Bu’de, Pa’de, dan Mas Andre (kakak Putri), yang sering kali membagi tugas antara Bogor, Bandung, Yogya (lagi). Akhirnya bertemu kembali. ~Kenny G
Kami sudah besar. Namun dengan topik percakapan yang tidak jauh berbeda dari sebelumnya, asmara… religi frater, romo… kali ini ditambah dengan, ”kapan kita lulus?”. Kenyataan bahwa kami adalah pelajar, namun selalu menempatkan topik akademik di urutan terakhir seperti halnya gw menempatkan mandi di urutan terakhir dalam list gw (untung ada doa pagi setelah bangun tidur dan sebelum tidur yang keduanya bisa dilakukan tanpa mandi, hehe). Ya… itulah kami, itulah gw, hehe… anak nakal yang bertanggung jawab. Mas Andre sudah membawa pendamping satu almamater, dan disibukkan dengan kariernya di PLN. Dan Putri yang mengamuk dengan gaya yang lucu, ”gw yang calon diplomat kenapa dia yang jalan-jalan ke luar negri?”. Hohoho… lalu gw? Hmm… Oh… please My Lord… May I?
Setelah berputar-putar dengan perkembangan kisah asmara masing-masing yang menggelikan, Putri sebenarnya, karena perkembangan asmara gw begitu minim, hehe, dan dengan kenyataan bahwa kami sama-sama menikmati masa muda dengan status single tanpa kesepian, namun penuh filter dan batasan. Lalu… menyentuh pemikiran Putri tentang tulang rusuk Adam dan pasangan sejati yang dia dapatkan dari buku yang dia baca, dan frater dekatnya di Yogya…
Seseorang di suatu tempat ada untuk kita, kalau kita dilahirkan berpasangan. Laki-laki mencari tulang rusuknya, perempuan menanti waktu, kadang tanpa atau dengan kejutan, akan sebuah kesadaran bahwa ia adalah bagian dari rangkaian tulang rusuk seseorang. Kalau dilahirkan berpasangan… seseorang ada untuk yang lainnya. ~instrument Ost. Endless Love
Jadi… menurut pendapat gw. Di usia gw saat ini. Dengan berbagai prioritas. Dan tentu saja proses yang harus dilalui. Plus… kenakalan-kenakalan yang harus dipertanggung jawabkan. Gw memilih untuk belajar menjadi pribadi yang baik, belajar menjadi pribadi yang membuat semua orang merasa spesial. Menjalani hidup secara alami, tanpa melupakan tanggung jawab, hehehe… Tanpa filter, tanpa batasan untuk berbuat baik. Tanpa ego yang harus ditekan karena proses menjadikan segalanya terkendali dengan sendirinya. Wuaa… pasti rasanya menyenangkan… Sepertinya itu yang dilakukan oleh Mother Teresha?
Hidup selibat dengan Tuhan, sampai suatu saat tiba… seseorang muncul dengan atau tanpa kejutan, di mana umat Kristiani meyakini, bahwa dari rangkaian tulang rusuknyalah gw berasal. KALAU, gw dilahirkan berpasangan. Enjoy life..! ~Love is You, ten 2 five