Semangat

Filed under: Uncategorized — cardeen at 5:35 pm on Wednesday, November 19, 2008

Mama selalu bisa membedakan,

Berhubung gw takut gelap, tapi suka gelap, hehe… gw selalu tidur dalam keadaan terang dan terjaga dalam keadaan gelap. Nyokap selalu melakukan inspeksi ke kamar anak-anaknya, hmm… tebakan gw jam sebelasan. Mematikan lampu kalau anak-anaknya udah tidur, kasi warning kalo anak-anaknya masih terima telpon atau baca novel, komik, gambar, ngenet, dan sebangsanya, atau menawarkan susu cokelat madu anget kalau kita lagi belajar. Hmm… terserah kalau diartikan manja, tapi gw nyaman.

Nyokap bisa membedakan, kalau gw lagi ada problem, membangunkan gw gampang banget, nyokap akan membangunkan gw dengan cara yang berbeda. Satu kata, “bangun”, atau “belajar”. Langsung bangun. Tapi kalo lagi damai, wew… tiga lapis alarm, lewat… hehe, nyokap juga yang matiin. Nyokap harus ngebangunin dengan membuka pintu, jendela, plus sapu yang dibentur-benturkan ke segala rupa. Trus, “Ayuuuuuuuuuuuu… kamu kira di rumah ada pembantu…???? wekewekewekewek… (bermutasi menjadi monster)”

Belakangan, yang gw alami adalah waktu saat gw lagi ada problem. Hmm… bingung juga problemnya apa. Dan gw juga gak berani terlalu banyak ngeluh, karena kalo gw pikir-pikir semua mengalami apa yang gw alami, porsinya sama. Tapi… hmm… wesewesewes lah… bablas, tancap aja…

Tapi pagi ini rasanya menyenangkan… Gw lagi gulang-guling gak jelas. Selimut ngelilit, bantal tumpang tindih, monitor screensaver. Tralalalala… Pintu emang dalam keadaan terbuka, jadi gw gak nyadar nyokap masuk. Mata gw merem, tapi gw gak tidur.

Tahu-tahu nyokap ngedongeng, “eh yu… mama ada cerita, tentang pedagang di kupang…” Hah? hehehehe… Gw kaya anak kecil aja yang cengok dengerin nyokap cerita. “Gak bisa maa… susah… udah jungkir balik, ketinggalan jauh…” Akhir dari semuanya adalah, “Yang manusia punya itu cuma semangat. Itu tueh harta, jangan pesimis, jangan minder, karena semua sedang melewati proses. Senyum terus, tapi dari hati. Itu tueh obat mujarab. Tiap orang punya keberuntungan masing-masing. Makanya jadi anak baik. Mandi sana (lha???!)”

Iyah, bener… semangat itu harta. Pantes yaaah… Mario Teguh laris manis. Hoho…

p.s : sapa tueh yang ngefans sama mario teguh? =P

Legenda Pribadi

Filed under: Uncategorized — cardeen at 5:20 pm on Monday, November 17, 2008

Lalu dia melangkahkan kakinya lebar-lebar. Senyum, lengan yang mengayun dan langkah-langkah cepat yang mengambang berharmoni dalam jingga. Aura mengijinkannya bersentuhan dengan yang nyaris tak terbatas dan terkata oleh ucap. Namun fibrasi pikirannya mengajak alam ikut bersenandung. Dilihat olehnya mereka yang mengejar legenda pribadi. Hmm… seperti yang diceritakan oleh Paulo Coelho dalam Sang Alkemis kah? Lalu diintip kembali olehnya, impian dalam benak menyatu dalam hasrat menembus pikiran sang pemilik impian. Membiarkan semangat itu ikut membangunkan dari rasa aman. Tapi tidak dibiarkan olehnya merengut mimpi. Juga rasa senang. Karena itu yang membantunya melihat kehidupan dari sisi indah selama ini.

Bertengger sendirian saat hujan, di belakang Lab Ilkom

Filed under: Uncategorized — cardeen at 5:08 pm on Monday, November 17, 2008

Mereka percaya karma kendali. Beberapa tersenyum saat rasa tersayat . Yang lain berpikir tentang pertemuan tak terduga. Kemudian keberuntungan-keberuntungan menyenangkan. Dan… apakah kebetulan selalu menjadi benang merah? Mereka berpikir tentu saja. Karena Sang Keberadaan tidak pernah menciptakan untuk sekedar. Maka, mereka percaya karma kendali untuk jawaban tidak ada sesuatu yang kebetulan.

 

Di Tepi Sungan Piedra Aku Menangis dan Tertawa.

Kalau ada waktu… bacalah :)
Hanya kalau kau ada waktu.

Dewi Tara

Filed under: Uncategorized — cardeen at 5:01 pm on Monday, November 17, 2008

Aku senang saat kau panggil aku Dewi Tara. Dan kau tidak samakan itu dengan Dewa Ayu Tara. Aku sangat senang. Terima kasih.

Maya

Filed under: Uncategorized — cardeen at 5:51 pm on Friday, November 7, 2008

Ditatapnya lautan dalam ambang keterbatasan. Ingin menyeberang menuju daratan yang tak terjamah oleh waktu dan aroma masa kini. Tercium olehnya aroma dupa khas puri, teringat akan hal yang bukan sekedar fatamorgana. Lalu bagaimana dengan Om Kara lambang keagungan Sang Keberadaan pencipta semesta? Dialihkan dengan tengadah menatap langit nyaris tak terbatas. Yaaa… terpantulkan oleh laut tenang bertegangan semakin ke dalam. Menusuk hati dan karena bukan amphibi. Saat sinarnya ternyata menjadikannya merasa begitu kecil, lagi… Ia balikkan haluan wajah menuju undakan kecil di dekat gerbang kesederhanaan. Melawan arus angin, hingga helaian-helaian rambut bergulir, bermain dalam angin, menghempas wajah. Maka dipilih olehnya sekuntum Padma dalam tempayan tanah liat. Hanya melihatnya, sejenak, kemudian meninggalkannya, menjadikannya teman imajiner, dan membiarkannya hidup dan terus bertumbuh, dalam maya… Menyatu dengan Puri, Laut, dan Angin, dalam rengkuh Om Kara.