Dari Frame Relay sampai Ovum Sperma

Filed under: Uncategorized — cardeen at 9:03 am on Sunday, January 4, 2009

Kali ini adalah tentang pemikiran Dea yang membuat gw sadar bahwa, wew, gw memang punya ade yang berbeda dari anak-anak seusianya. Gw bangga sama ade gw (yaa… wajar aja, hampir semua yang gak gw punya ada di dia semua, hehehe)

 

Berdasarkan apa yang dia tangkap dari pelajaran Biologi, bahwa se’emansipasi-emansipasinya wanita, yang paling okey adalah wanita dengan adat ketimuran. Liat aja ovum dengan sperma. Gak pernah ada kan, ovum yang ngejar-ngejar sperma? Yang bisa membuahi ovum, pada akhirnya adalah sperma yang kuat. Bukan ovum yang berterbangan nyari-nyari sperma. Celetukkan dengan gayanya yang khas dan lugu buat gw, “wew… cool” Tapi kalo wanita sebagai pencipta kehidupan gw setuju banget… dan sepertinya Dea juga, yaaa… kata dosen gw, kehidupan itu 90% lebih emang dari manusia, sebagian besar komposisi kehidupan kan ada dalam ovum. “phew…”. Jadi sopanlah ‘kau’ pada kami, hehe

 

Mungkin itu sebabnya jadi cewe yaaa… takluk dan wajib kuat… nah lho… ??!

 

Hehehe… baiklah bapak-bapak engineer, hanya sekedar intermezo (^^)V

Okeh… okeh…

Dari Frame Relay ke tari tenun,

Dari ngelap biola ke nyapu debu gitar,

Dari Sperma Ovum ke ‘Tulasi’

Dan berakhir di… Analisa Regresi

 

Sebetulnya kalo gak gara-gara Frame Relay, Access List, dan menyadari bahwa tangan gw udah kapalan sejak SD gara-gara bawa tas koper buat ngegaya, nyambung ke sejarah ‘Tulasi’, sampe kejutan kecil yang… setuju, Pak J masih ada banyak hal yang jauh lebih penting. Tarik nafas, dan… hembuskan… phew…

 

p.s : saya siap mundur teratur, tralalalalala…

Terima Kasih…

Filed under: Uncategorized — cardeen at 3:57 am on Wednesday, December 31, 2008

Di penghujung tahun ini gw membuat serangkaian list. Yang sampai pada akhirnya gw malu sendiri untuk mengungkapkannya, bahkan ke orang tua gw. Yaaaaa… gw tergolong anak yang jarang merahasiakan sesuatu ke orang tua.

Yang jelas… Kalau sampai tahun 2009 nanti gw masih hidup… Waaaa… I Love U So Much My Lord! Terima kasih untuk kesempatan baru memperbaiki diri gw yang sangat amat jauh dari sempurna. Terutama kesempatan untuk mempertanggung jawabkan kenakalan-kenakalan. Terima kasih untuk semua jalan yang dibukakan untuk gw, terima kasih untuk hal yang membahagiakan karena dari sana gw mendapatkan penghiburan. Terima kasih untuk masa sulit, dan beberapa masalah karena dari sana gw belajar untuk menjadi kuat. Terima kasih untuk masalah-masalah yang terselesaikan karena itu merupakan reward yang luar biasa bagi gw seberapa kecil pun masalahnya, membuat gw merasa naik kelas. Terima kasih untuk yang belum terselesaikan, karena itu menyadarkan gw sepenuhnya bahwa gw selalu mempunyai alasan untuk hidup. Terima kasih untuk keberuntungan-keberuntungan yang membuat gw merasa… beruntung

Termasuk terima kasih untuk pembelajaran… menikmati hidup setiap saat dan kesadaran bahwa sepenuhnya gw nggak pernah sendiri

Terima kasih untuk orang-orang yang penuh kasih dalam hidup gw, karena merekalah yang membuat gw merasa berharga. Terima kasih untuk kehadiran mereka yang sempat membuat gw merasa kesal dan luar biasa ingin melihat mereka lenyap dari muka bumi hehehe… , karena dari sana gw tahu bahwa perasaan semacam itu adalah salah dan tidak boleh dipelihara, dan yang terpenting adalah kehadiran mereka memang baik untuk meng-upgrade kedewasaan gw, hehehehe… “Maaf, Tuhan…”, dan yang terpenting (lagi) untuk belajar mengetahui, mengingat, dan mengimplementasikan untuk tidak bersikap seperti orang-orang yang ingin gw lenyapkan dari muka bumi pake sihirnya Hermione itu (gak sakit kan, cuma langsung ilang), hehehehe… “Maaf sekali lagi Tuhan…” (^^)V

Terima kasih untuk orang tua sempurna termasuk kemampuan mereka bermutasi menjadi monster ganas menindak anaknya yang luar biasa bertingkah polah seganas monster yang jauh lebih ganas. Terima kasih untuk adik-adik yang unik, karena dari mereka gw belajar buanyaaaak hal. Terima kasih untuk begitu banyak sosok malaikat yang bisa gw lihat dalam hidup gw. Pertemanan dan persaudaraan yang membuat gw merasa memiliki juntaian bunga krisan putih dengan panjang tak hingga. Oyaaa..! Terima kasih untuk kesempatan mengenal bunga krisan putih yang ternyata luar biasa indah…! Harga tidak berhubungan dengan keindahan, mawar merah tidak mengurangi keindahan krisan putih liar, seperti halnya wine tidak bisa menggantikan segelas air putih – dewi lestari, recto verso.

Terima kasih untuk kesempatan menikmati berbagai keindahan yang dikemas oleh alam, dan pelajaran berharga untuk menemukan keindahan dari keindahan, karena semuanya pasti begitu sempurna bagiMu My Boss… Terima kasih karena Kebun Raya Bogor masih berdiri dan dilindungi semesta, Gunung Salak masih berdiri tegak, rumah di samping Pura Giri Kusuma Bogor, serta kemudahan untuk menjangkau Cimahpar, Cijayanti, Cikeas, Bukit Pelangi, Gadog, dan Bukit Sentul, karena tempat-tempat penghiburan seperti itulah yang gw suka dan terjangkau oleh kantong gw, hehehe… hidup yang pas! Terima kasih untuk masih bisa merasa bahagia bahkan saat tersesat 45 menit sekalipun (tanpa berputar-putar, dan belum dihitung waktu balik). Dan… ternyata menjadi perempuan bebas cukup menyenangkan, hanya… baiklah… terima kasih untuk mengingatkan agar menjadi kuat. Tapi menjadi kuat itu menyenangkan.

Yaaa…? Terima kasih untuk perolehan jurusan Ilmu Komputer di IPB dalam sistem Mayor Minor 2005 (itu bukanlah sesuatu yang mudah, dan kebetulan saja sebenarnya tidak cukup untuk sistem seperti itu, hehehe) , dan terima kasih atas kesempatan yang diberikan untuk segera mengakhirinya… lalalalalalalalala…! Terima kasih atas teguran keras pada semester 3, yang membuat gw sadar, bahwa tidak selamanya segala sesuatu bisa dilihat mudah, terima kasih untuk posisi di bawah, merasa kecil, karena ternyata itu yang menjadikan hidup gw lengkap. Terima kasih untuk QAS (Question Answering Systems) sebagai topik dengan pembimbing bapak Julio Adisantoso, terima kasih… terima kasih… karena itu menyadarkan gw, bahwa kita tidak boleh memilih-memilih kehidupan, tapi terima kasih… karena topik itu pasti akan menuntut gw untuk belajar lebih giat dari sebelumnya. Terima kasih untuk mengkondisikan disiplin pada anak malas dan nakal ini.

Terima kasih untuk kesempatan mengenalMu… sungguh itu menjadikan diriku jauh lebih kuat dari seharusnya. Yaaa… karena aku tahu… sebetulnya aku adalah anak yang luar biasa nakal dan lemah. Terima kasih Sang Keberadaan yang Maha Cerdas dan Jenius. I love U my Lord!

Kalau ternyata gw gak umur panjang dan terjadi sesuatu pada tahun 2009 atau bahkan tepat di awal tahun 2009?

Tuhan terima kasih, karena aku diberi kesadaran akan ’indah’, sehingga harus berterima kasih untuk begitu banyak hal yang Kau berikan. Begitu banyaknya namun tidak pernah terasa berlebih, karena kasihMu begitu indah dan tidak pernah memabukkan. Terima kasih..

Selamat Tahun Baru 2009!

Tulang Rusuk

Filed under: Uncategorized — cardeen at 3:45 am on Wednesday, December 31, 2008

My Christmas Eve,

Setelah bolos beberapa tahun untuk tidak Natalan di rumah Pa’de dan Bu’de Bambang, sejak Pa’de pensiun, lalu Putri kuliah, keluarga itu sering menghabiskan waktu Natal secara terpisah. Putri dengan kesibukkannya sebagai aktivis Gereja di Yogyakarta, Bu’de, Pa’de, dan Mas Andre (kakak Putri), yang sering kali membagi tugas antara Bogor, Bandung, Yogya (lagi). Akhirnya bertemu kembali. ~Kenny G

Kami sudah besar. Namun dengan topik percakapan yang tidak jauh berbeda dari sebelumnya, asmara… religi frater, romo… kali ini ditambah dengan, ”kapan kita lulus?”. Kenyataan bahwa kami adalah pelajar, namun selalu menempatkan topik akademik di urutan terakhir seperti halnya gw menempatkan mandi di urutan terakhir dalam list gw (untung ada doa pagi setelah bangun tidur dan sebelum tidur yang keduanya bisa dilakukan tanpa mandi, hehe). Ya… itulah kami, itulah gw, hehe… anak nakal yang bertanggung jawab. Mas Andre sudah membawa pendamping satu almamater, dan disibukkan dengan kariernya di PLN. Dan Putri yang mengamuk dengan gaya yang lucu, ”gw yang calon diplomat kenapa dia yang jalan-jalan ke luar negri?”. Hohoho… lalu gw? Hmm… Oh… please My Lord… May I?

Setelah berputar-putar dengan perkembangan kisah asmara masing-masing yang menggelikan, Putri sebenarnya, karena perkembangan asmara gw begitu minim, hehe, dan dengan kenyataan bahwa kami sama-sama menikmati masa muda dengan status single tanpa kesepian, namun penuh filter dan batasan. Lalu… menyentuh pemikiran Putri tentang tulang rusuk Adam dan pasangan sejati yang dia dapatkan dari buku yang dia baca, dan frater dekatnya di Yogya…

Seseorang di suatu tempat ada untuk kita, kalau kita dilahirkan berpasangan. Laki-laki mencari tulang rusuknya, perempuan menanti waktu, kadang tanpa atau dengan kejutan, akan sebuah kesadaran bahwa ia adalah bagian dari rangkaian tulang rusuk seseorang. Kalau dilahirkan berpasangan… seseorang ada untuk yang lainnya. ~instrument Ost. Endless Love

Jadi… menurut pendapat gw. Di usia gw saat ini. Dengan berbagai prioritas. Dan tentu saja proses yang harus dilalui. Plus… kenakalan-kenakalan yang harus dipertanggung jawabkan. Gw memilih untuk belajar menjadi pribadi yang baik, belajar menjadi pribadi yang membuat semua orang merasa spesial. Menjalani hidup secara alami, tanpa melupakan tanggung jawab, hehehe… Tanpa filter, tanpa batasan untuk berbuat baik. Tanpa ego yang harus ditekan karena proses menjadikan segalanya terkendali dengan sendirinya. Wuaa… pasti rasanya menyenangkan… Sepertinya itu yang dilakukan oleh Mother Teresha?

Hidup selibat dengan Tuhan, sampai suatu saat tiba… seseorang muncul dengan atau tanpa kejutan, di mana umat Kristiani meyakini, bahwa dari rangkaian tulang rusuknyalah gw berasal. KALAU, gw dilahirkan berpasangan. Enjoy life..! ~Love is You, ten 2 five

Bersyukur menjadi tara

Filed under: Uncategorized — cardeen at 3:23 am on Saturday, December 20, 2008

Alasan gw bersyukur menjadi gw

Sebetulnya ada sangat banyak. Tapi untuk saat ini, gw ingin mengingatkan diri gw terhadap satu hal. Mungkin gw gak tahu, apakah gw bisa, atau akan bertumbuh seperti gadis-gadis ideal pada umumnya, seperti terlihat anggun, tampak intelek, tingkah polah elegan, lemah lembut, atau… pandai menyenangkan hati orang lain. Karena gw tidak pernah merencanakan seperti apa dan ke mana gw akan membawa pertumbuhan itu. Itu adalah tugas orang tua gw sepertinya. Semuanya berjalan alami dengan mengikuti apa yang ada dalam keluarga gw selama ini, mengikuti saran dan kritik, ditempa dengan tegur dan ketus yang tidak jarang membuat gw terhenyak, adat istiadat, religi, dan seperti halnya betapa karakter menjadi bagian dari kombinasi di dalamnya.

Namun saat-saat seperti ini… gw ingin mengingatkan diri gw, kenapa gw harus bersyukur menjadi gw. Itu karena:

-gw bisa tetap tertawa

-gw bisa menyelesaikannya

-gw bisa tetap menggoda orang lain

-tetap juga bisa berjingkrak-jingkrak kegirangan

-dan gw tetap bisa berlalalalalalalalalalalalala ria…

-gw anak nakal yang bertanggung jawab

Tidak penting lagi, karena gw memiliki kemampuan untuk menyemangati diri gw sendiri, dan memanjakan diri gw sendiri. Tidak tahu apakah itu sisi positif, karena tentu saja itu sangatlah subjektif. Tapi yang pasti… gw bersyukur memiliki sikap itu. Karena gw yakin… tidak semua orang bisa melakukan itu. Bahkan saat mereka ingin pun… tidak semua orang bisa melakukan dan memberi reaksi seperti apa yang gw lakukan. Itulah alasan kenapa gw bersyukur menjadi diri gw sendiri. Dan tidak ingin menukarkannya dengan apapun dan untuk siapapun. Gw bersyukur… itulah sebabnya, gw tidak akan mengorbankan apapun. Karena gw bersyukur…

Bagus Kumisaaaan… Tidak!!!

Filed under: Uncategorized — cardeen at 8:42 am on Wednesday, December 10, 2008

”Jadi kan KPK nya 42, nah kita tambahin 2 September 2008 + 42 hari. Nah, kan jadi lebih dari 30 hari kan, kan September Cuma 30 hari, jadi 44 hari itu kita kurangin 30 hari, berapa sisanya? 14 kan…? Tapi udah loncat satu bulang kan? Nah berarti nanti mereka ketemuan lagi nabung bareng-barengan tgl 14 Oktober… Ngerti gak?”

”Emm… ngerti…”

”Gak ngertinya di mana… (hening sejenak… mengamati sesuatu di atas bibir ade gw)”,

”GUS, KAMU KUMISAN…!!!”

”Hah, masa sieh kak”

”Mamaaaaaaa……………… (sambil nyeret bagus), maaaaaa………… liat dech, bagus kumisaaaaan….!!!”

Mama : ”Lha, emang kenapa…?”

”Idih, kumisan ma…itu ma, liat dech, bagus kumisan!!!”

Mama : ”Iya kan bagus cowo…”

”Eh, iyaya… bagus kan cowo, hehehe… lupa…”, ”WOI…!!! enak aja… emangnya kemarin aku apaan…??!”

”Tapi kak ayu gak suka, cukur itu…!!! klimis, bersih, jelek tahu gak kumisaaaaan…! cukur ampe bersih”

”Ih, kak ayu… hoho, aku kumisan (sambil ngaca, bangga)”

Mama : ”Ayuuu… jangan ahh… Renhard malah udah brewokan…”

”Ya ampun, please dech… kamu masih rok sd githu, rok merah githu kumisan… idiiiih, geli tahu gak sieeeh!!! Amit-amit…!”, ”WOI…!!! enak aja aku pake rok!!!”

”Eh, hihi… iya maksudnya celana…!”

Papa : ”Bagus, jangan sekali-sekali kamu cukur tanpa sepengetahuan papa, nanti jadi item”

Silent………………………………………………………………………………………………………………………..

Ya ampun, ade cowo gw itu, kayanya mimpi basah juga belum, cos suaranya masih cempreng, masih kaya bocah banget, dia emang udah mulai jerawatan… tapi kebanyakan yang dia aku jerawat itu sebenernya biang keringat… potongan rambutnya aja ponian rawis-rawis, tidur aja masih suka ditemenin, mandi masih ala capung, dan kadang dielapin, tapi please dech… kumisan… gw gak suka cowo muda kumisan, dan itu ada pada ade cowo gw satu-satunya… TIDAAAK…!!! kenapa harus ade cowo gw yang semata wayang…!!!

Semangat

Filed under: Uncategorized — cardeen at 5:35 pm on Wednesday, November 19, 2008

Mama selalu bisa membedakan,

Berhubung gw takut gelap, tapi suka gelap, hehe… gw selalu tidur dalam keadaan terang dan terjaga dalam keadaan gelap. Nyokap selalu melakukan inspeksi ke kamar anak-anaknya, hmm… tebakan gw jam sebelasan. Mematikan lampu kalau anak-anaknya udah tidur, kasi warning kalo anak-anaknya masih terima telpon atau baca novel, komik, gambar, ngenet, dan sebangsanya, atau menawarkan susu cokelat madu anget kalau kita lagi belajar. Hmm… terserah kalau diartikan manja, tapi gw nyaman.

Nyokap bisa membedakan, kalau gw lagi ada problem, membangunkan gw gampang banget, nyokap akan membangunkan gw dengan cara yang berbeda. Satu kata, “bangun”, atau “belajar”. Langsung bangun. Tapi kalo lagi damai, wew… tiga lapis alarm, lewat… hehe, nyokap juga yang matiin. Nyokap harus ngebangunin dengan membuka pintu, jendela, plus sapu yang dibentur-benturkan ke segala rupa. Trus, “Ayuuuuuuuuuuuu… kamu kira di rumah ada pembantu…???? wekewekewekewek… (bermutasi menjadi monster)”

Belakangan, yang gw alami adalah waktu saat gw lagi ada problem. Hmm… bingung juga problemnya apa. Dan gw juga gak berani terlalu banyak ngeluh, karena kalo gw pikir-pikir semua mengalami apa yang gw alami, porsinya sama. Tapi… hmm… wesewesewes lah… bablas, tancap aja…

Tapi pagi ini rasanya menyenangkan… Gw lagi gulang-guling gak jelas. Selimut ngelilit, bantal tumpang tindih, monitor screensaver. Tralalalala… Pintu emang dalam keadaan terbuka, jadi gw gak nyadar nyokap masuk. Mata gw merem, tapi gw gak tidur.

Tahu-tahu nyokap ngedongeng, “eh yu… mama ada cerita, tentang pedagang di kupang…” Hah? hehehehe… Gw kaya anak kecil aja yang cengok dengerin nyokap cerita. “Gak bisa maa… susah… udah jungkir balik, ketinggalan jauh…” Akhir dari semuanya adalah, “Yang manusia punya itu cuma semangat. Itu tueh harta, jangan pesimis, jangan minder, karena semua sedang melewati proses. Senyum terus, tapi dari hati. Itu tueh obat mujarab. Tiap orang punya keberuntungan masing-masing. Makanya jadi anak baik. Mandi sana (lha???!)”

Iyah, bener… semangat itu harta. Pantes yaaah… Mario Teguh laris manis. Hoho…

p.s : sapa tueh yang ngefans sama mario teguh? =P

Legenda Pribadi

Filed under: Uncategorized — cardeen at 5:20 pm on Monday, November 17, 2008

Lalu dia melangkahkan kakinya lebar-lebar. Senyum, lengan yang mengayun dan langkah-langkah cepat yang mengambang berharmoni dalam jingga. Aura mengijinkannya bersentuhan dengan yang nyaris tak terbatas dan terkata oleh ucap. Namun fibrasi pikirannya mengajak alam ikut bersenandung. Dilihat olehnya mereka yang mengejar legenda pribadi. Hmm… seperti yang diceritakan oleh Paulo Coelho dalam Sang Alkemis kah? Lalu diintip kembali olehnya, impian dalam benak menyatu dalam hasrat menembus pikiran sang pemilik impian. Membiarkan semangat itu ikut membangunkan dari rasa aman. Tapi tidak dibiarkan olehnya merengut mimpi. Juga rasa senang. Karena itu yang membantunya melihat kehidupan dari sisi indah selama ini.

Bertengger sendirian saat hujan, di belakang Lab Ilkom

Filed under: Uncategorized — cardeen at 5:08 pm on Monday, November 17, 2008

Mereka percaya karma kendali. Beberapa tersenyum saat rasa tersayat . Yang lain berpikir tentang pertemuan tak terduga. Kemudian keberuntungan-keberuntungan menyenangkan. Dan… apakah kebetulan selalu menjadi benang merah? Mereka berpikir tentu saja. Karena Sang Keberadaan tidak pernah menciptakan untuk sekedar. Maka, mereka percaya karma kendali untuk jawaban tidak ada sesuatu yang kebetulan.

 

Di Tepi Sungan Piedra Aku Menangis dan Tertawa.

Kalau ada waktu… bacalah :)
Hanya kalau kau ada waktu.

Dewi Tara

Filed under: Uncategorized — cardeen at 5:01 pm on Monday, November 17, 2008

Aku senang saat kau panggil aku Dewi Tara. Dan kau tidak samakan itu dengan Dewa Ayu Tara. Aku sangat senang. Terima kasih.

Maya

Filed under: Uncategorized — cardeen at 5:51 pm on Friday, November 7, 2008

Ditatapnya lautan dalam ambang keterbatasan. Ingin menyeberang menuju daratan yang tak terjamah oleh waktu dan aroma masa kini. Tercium olehnya aroma dupa khas puri, teringat akan hal yang bukan sekedar fatamorgana. Lalu bagaimana dengan Om Kara lambang keagungan Sang Keberadaan pencipta semesta? Dialihkan dengan tengadah menatap langit nyaris tak terbatas. Yaaa… terpantulkan oleh laut tenang bertegangan semakin ke dalam. Menusuk hati dan karena bukan amphibi. Saat sinarnya ternyata menjadikannya merasa begitu kecil, lagi… Ia balikkan haluan wajah menuju undakan kecil di dekat gerbang kesederhanaan. Melawan arus angin, hingga helaian-helaian rambut bergulir, bermain dalam angin, menghempas wajah. Maka dipilih olehnya sekuntum Padma dalam tempayan tanah liat. Hanya melihatnya, sejenak, kemudian meninggalkannya, menjadikannya teman imajiner, dan membiarkannya hidup dan terus bertumbuh, dalam maya… Menyatu dengan Puri, Laut, dan Angin, dalam rengkuh Om Kara.

Next Page »